Makalah
“PERUBAHAN
SOSIAL
DAN
PEMBANGUNAN POLITIK”
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Semester III
Pada Mata
Sosiologi dan Politik
Oleh
1. ENDANG SUPANDI
2. HENY SUHARLIDA
3. SUHELDA
STIE
AL-KHAERIYAH CILEGON
TAHUN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat
Allah SWT, yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah yang bertema “Perubahan Sosial dan Pembangunan Politik”. Penulisan makalah
ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Sosiologi dan
Politik di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Al-Khaeriyah.
Dalam Penulisan makalah ini kami
merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang
telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini.
Cilegon, 18 Februari 2016
Tim Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang …..................................................................................... 1
B.
RumusanMasalah …................................................................................ 1
C.
Tujuan ……............................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Perubahan Sosial …................................................................. 3
B.
Faktor-Faktor
Penyebab Perubahan Sosial …............................................. 4
C.
Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial …........................................................... 7
D.
Proses Perubahan Sosial …..................................................................... 8
E.
Perubahan Sosial di bidang Pendidikan …............................................... .. 9
F.
Dampak Perubahan Sosial ……............................................................... 10
G.
Pengertian, Hakikat dan Komponen Pembangunan ……............................. 12
H.
Bentuk-Bentuk Pembangunan di Indonesia ……......................................... 13
I.
Dampak Pembangunan di Indonesia …….................................................. 17
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan …......................................................................................... 21
B.
Saran ……................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA …..............……………………………………………………
iii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan zaman yang semakin maju menuntut manusia
untuk dapat mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan. Sadar atau tidak
sadar, manusia sebagai makhluk monodualisme akan mengalami perbedaan keadaan
sosial dari waktu sebelumnya ke waktu sekarang ataupun masa depan. Perbedaan
keadaan itu yang menyebabkan adanya perubahan sosial, perubahan tatanan
masyarakat yang secara sadar ataupun tidak, cepat atau lambat. dapat berlangsung
dengan sendirinya maupun disengaja, tentunya dengan memperhatikan faktor-faktor
pendukung sekaligus penghambatnya.
Berbicara tentang
perubahan, kita membayangkan sesuatu terjadi setelah jangka waktu tertentu,
kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah.
Secara ontologi dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak dalam berada keadaan
tetap terus menerus. Semua realitas sosial senantiasa berubah dengan derajat
kecepatan, intensitas, irama, dan tempo yang berbeda.
Perubahan sosial yang terjadi akan berdampak pada
pembangunan sosial masyarakat, perubahan yang postif dan menguntungkan, akan
memberikan kontribusi terhadap pembangunan sosial, tentunya tak lepas dari
peran pembangunan ekonomi yang ada, karena pembangunan ekonomi yang maju, akan
menghasilkan pembangunan sosial yang maju pula.
B. RumusanMasalah
Dari
latar belakang diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa rumusan masalah dari
makalah ini, yaitu:
1. Apa pengertian perubahan sosial?
2. Apa faktor-faktor penyebab perubahan sosial?
3. Apa bentuk-bentuk perubahan sosial?
4. Bagaimana proses perubahan sosial?
5. Bagaimana perubahan sosial di bidang pendidikan?
6. Apa dampak perubahan sosial?
7. Apa pengertian, hakikat dan komponen dari pembangunan?
8. Bagaimana pembangunan di Indonesia?
9. Apa dampak yang diakibatkan dari pembangunan tersebut?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, kami dapat menyimpulkan
bahwa tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
1. Menjelaskan pengertian perubahan sosial.
2. Menjelaskan faktor-faktor penyebab perubahan sosial.
3. Menjelaskan bentuk-bentuk perubahan sosial.
4. Menjelaskan proses perubahan sosial.
5. Menjelaskan perubahan sosial di bidang pendidikan.
6. Menjelaskan dampak perubahan sosial.
7. Menjelaskan pengertian, hakikat dan komponen dari
pembangunan.
8. Menjelaskan pembangunan di Indonesia.
9. Menjelaskan dampak yang diakibatkan dari pembangunan
tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Definisi Perubahan Sosial
Perubahan adalah sesuatu
yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, baik itu perubahan yang menuju ke
arah positif ataupun negatif, fisik ataupun psikis. Kehidupan sosial manusia
pun akan selalu terjadi perubahan dengan kata lain perubahan sosial merupakan
gejala yang melekat disetiap kehidupan masyarakat.
Mengenai definisi dari
konsep banyak para ahli yang berpendapat.
Selo sumardjan mengatakan
bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada lembaga
kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system sosial,
termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku diantara
kelompok dalam masyarakat. Menurutnya, antara perubahan sosial dan perubahan
kebudayaan memiliki suatu aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan
satu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan cara masyarakat dalam
memenuhi kebutuhannya.
Gillin dan Gillin
mengatakan bahwa perubahan-perubahan sosial untuk suatu variasi cara hidup yang
paling diterima yang di sebabkan baik karena perubahan dari cara hidup yang
lebih diterima yang disebabkan baik karena perubahan kondisi geografis,
kebudayaan materil, kompetisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi
ataupun perubahan –perubahan baru dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Wilbert moore mengatakan
pula bahwa perubahan sosial sebagai “perubahan struktur sosial, pola perilaku
dan interkasi sosial”. Setiap perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat
atau dalam organisasi sosial disebut perubahan sosial.
Dapat di tarik kesimpulan
bahwa perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau
dalam hubungan interaksi, yang meliputi berbagai aspek kehidupan. Sebagai
akibat adanya dinamika anggota masyarakat, dan yang telah di dukung oleh
sebagian besar anggota masyarakat, merupaka tuntutan dalam mencari
kesetabilannya. Ditinjau dari stabilitas kehidupan perubahan sosial yang
dialami masyarakat adalah hal yang wajar. Kebalikannya masyarkat yang tidak
berani melakukan perubahan-perubahan tidak akan dapat melayani tuntutan dan
dinamika anggita-anggota yang selalu berkembang kemauan dan inspirasi.
B.
Faktor-faktor
Perubahan Sosial
1.
Faktor
Penyebab
Perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat terjadi
karena masyarakat tersebut menginginkan perubahan. Perubahan juga dapat terjadi
karena adanya dorongan dari luar sehingga masyarakat secara sadar ataupun tidak
akan mengikuti perubahan.
Perubahan berasal dari dua sumber yaitu faktor acak
dan faktor sistematis. Faktor acak meliputi iklim, cuaca, atau karena adanya
kelompok-kelompok tertentu. Faktor sistematis adalah faktor perubahan sosial
yang disengaja dibuat. Keberhasilan faktor sistematis ditentukan oleh
pemerintahan yang stabil dan fleksibel, sumber daya yang cukup, dan organisasi
sosial yang beragam. Jadi, perubahan sosial biasanya merupakan kombinasi dari
faktor sistematis dengan beberapa faktor acak.
Menurut
Soerjono Soekanto, secara umum timbulnya perubahan sosial dipengaruhi oleh dua
faktor utama yaitu faktor endogen dan eksogen.
1)
Faktor-Faktor Endogen / Internal Factor
Faktor-Faktor
Endogen / Internal Factor adalah faktor yang berasal dari dalam masyarakat.
Menurut David Mc. Clellad faktor ini didorong oleh need for achievment
(motivasi berprestasi) dari individu-individu dalam masyarakat itu. Apabila
setiap individu memiliki motivasi untuk meraih prestasi terbaik, kelompok
tersebut secara otomatis akan mengalami perubahan. Secara umum faktor-faktor
dalam yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial adalah:
a) Jumlah
Penduduk
Jumlah penduduk menentukan
cepat atau lambatnya perubahan sosial yang terjadi. Hal ini terkait dengan
struktur dan budaya masyarakat yang berjumlah banyak akan lebih komplek.
Kompleksitas inilah yang mengakibatkan cepatnya perubahan sosial yang terjadi.
Sedangkan untuk perubahan sosial yang disebabkan oleh sedikitnya jumlah
penduduk terjadi karena upaya pengisisan kekosongan jumlah penduduk dan
ditandai dengan konversi lahan terbuka menjadi lahan terbangun dan perubahan
sektor primer menjadi sektor sekunder maupun sektor tersier. Hal ini
menunjukkan adanya perubahan sosial pada pola aktivitas manusia. Contohnya
saja, di Pulau Jawa sudah banyak lahan pertanian berubah menjadi kawasan
perdagangan dan jasa. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses urbanisasi
dimana terjadi proses transisi dari rural ke urban yang ditandai dengan
perubahan sistem ekonomi dan sosial budaya (khususnya pada sistem mata
pencaharian yang mulanya di sektor pertanian menjadi sektor non-pertanian).
b) Penemuan-Penemuan
Baru (Inovasi)
Penemuan-penemuan baru
dapat mendorong perubahan sosial dalam masyarakat. Penemuan-penemuan baru dapat
dibedakan menjadi discovery dan invention. Discovery merupakan
penemuan unsur-unsur yang bersifat baru. Sedangkan invention merupakan
penemuan yang bersifat menyempurnakan bentuk penemuan lama, disebut invention
jika masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan menerapkan penemuan tersebut.
Discovery
maupun invention biasanya terjadi di bidang teknologi. Pertemuan Asian
Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di
Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan
komunikasi, menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk
masyarakat, menyusun framework penggunaan teknologi khususnya informatika,
membangun jaringan online-pemerintah, serta mengembangkan pendidikan untuk
meningkatkan daya saing Asia. Masyarakat Indonesia memperoleh dampak dari
perkembangan teknologi. Banyak gadget yang canggih tercipta. Sudah mulai banyak
masyarakat Indonesia yang tidak mau dicap minim penguasaan teknologi, sehingga
upaya konsumtif dalam konsumsi gadget-gadget baru mulai dianggap wajar bahkan
menjadi trend tersendiri. Siapa yang mempunyai gadget yang canggih dianggap
mampu mencirikan status sosial seseorang. Hal ini sudah menunjukkan adanya
perubahan sosial yang terjadi pada pola perilaku masyarakat Indonesia. Peran
penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan
adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam
masyarakat.
c) Konflik
dalam Masyarakat
Pertentangan atau konflik
dalam masyarakat juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan
sosial. Pertentangan-pertentangan tersebut dapat berupa pertentangan
antarindividu, antara individu dengan kelompok, antarkelompok, serta konflik
antargenerasi. Konflik dalam masyarakat dikatakan sebagai salah satu faktor
penyebab adanya perubahan sosial karena dalam konflik, masyarakat menjadi mudah
terpengaruh isu negatif dan mengakibatkan cara pandang dan cara bersikap
menjadi berubah. Di Indonesia, konflik banyak terjadi di bagian Indonesia
timur. Di ibukota negara sendiri sering terjadi konflik, misalnya tawuran antar
pelajar SMA yang hanya dipicu masalah sepele dan merupakan bentuk penyimpangan
tingkah laku dan menjadi ciri dalam perubahan sosial masyarakat Indonesia yang
cinta damai menjadi manusia yang tidak cinta kedamaian.
d) Revolusi
Revolusi merupakan
perubahan secara cepat yang terjadi karena adanya ketidakpuasan
masyarakat terhadap sistem pemerintahan yang ada. Perubahan ini terjadi secara
cepat khususnya pada tata penyelenggaraan lembaga masyarakatnya. Revolusi
pernah terjadi di Indonesia, yaitu penggulingan masa orde baru di bawah
pemerintahan Presiden Soeharto oleh para mahasiswa yang menuntut perubahan.
Pemerintahan Presiden Soeharto dianggap diktator dan mutlak karena menjabat
dalam beberapa periode. Kebebasan berbicara pada masa pemerintahan Presiden
Soeharto pun dibatasi. Penggulingan masa pemerintahan pada masa orde baru
diganti menjadi masa reformasi. Pada tahun 1998, resmi presiden Soeharto
mengundurkan diri. Proses ini bertujuan untuk menjadikan pemerintahan lebih
baik lagi. Meskipun sudah ada perubahan masa dari orde baru ke masa reformasi
tetapi tetap saja proses menuju Indonesia yang adil, makmur sejahtera tidak
berhenti begitu saja. Oleh karena itu, terdapat perubahan-perubahan yang nyata
menuju ke arah Indonesia yang lebih baik seperti amandemen Undang-Undang Dasar
RI 1945, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan kebebasan pers dijamin dalam
undang-undang.
2. Faktor-Faktor
Eksogen / External Factor
Faktor-Faktor
Eksogen / External Factor adalah faktor-faktor yang berasal dari luar
masyarakat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor tersebut
antara lain:
a) Kondisi
Alam yang Berubah
Kondisi alam yang berubah atau
bencana alam mengakibatkan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut terpaksa
berpindah untuk mencari tempat yang lebih aman. Perpindahan ini serta merta
membawa dampak adanya unsur baru dalam sistem masyarakat tempat baru. Sehingga
perlu adanya proses adaptasi atas lingkungan yang baru.
Indonesia merupakan salah satu
negara yang rawan terhadap bencana. Hal ini dikarenakan Indonesia dilalui jalur
patahan, rangkaian jalur gunung berapi dan dengan topografi serta morfologi
yang beragam. Bencana alam akan membawa dampak bagi kelangsungan hidup
masyarakat.
b)
Peperangan
Peperangan dalam hal ini berarti
pertikaian antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain di luar
batas-batas negara. Bukan konflik yang terjadi dalam masyarakat di negara yang
sama. Dalam peperangan pasti ada pihak yang kalah dan pihak yang menang. Pada
pihak yang kalah secara otomatis akan mengalami perubahan yang signifikan
seperti perubahan struktur lembaga negara maupun perubahan dinamika sosial
masyarakatmya.
c) Pengaruh
Kebudayaan Masyarakat Lain
Interaksi antar masyarakat
membawa pengaruh dalam pola perilaku. Dengan adanya interaksi, maka terjadi
hubungan timbal balik yaitu saling mempengaruhi. Interaksi ini akan
mengakibatkan budaya masyarakat lain tersebar dan kemungkinan diserap dalam
kebudayaan masyarakat tertentu. Penyebaran kebudayaan secara damai dapat
melalui penyebaran kebudayaan atau pengaruh dari satu daerah ke daerah lain
yang terjadi secara langsung ataupun tidak langsung, akulturasi, maupun
asimilasi. Budaya lain yang terserap pasti akan menghasilkan perubahan.
2.
Faktor
Pendorong
Faktor pendorong perubahan sosial adalah faktor yang
mempercepat perubahan sosial. Faktor tersebut meliputi kontak dengan masyarakat
lain, difusi (penyebaran unsur-unsur kebudayaan) dalam masyarakat, difusi antar
masyarakat, sistem pendidikan yang maju, sikap ingin maju, toleransi, sistem
stratifikasi (lapisan) sosial terbuka, penduduk yang heterogen
(bermacam-macam), ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan, orientasi ke masa
depan, nilai yang menyatakan bahwa manusia harus berusaha memperbaiki nasibnya,
disorganisasi (pertikaian) dalam keluarga), dan sikap mudah menerima hal-hal
baru.
3.
Faktor
Penghambat
Perubahan sosial tidak akan selalu berjalan mulus.
Perubahan sosial seringkali dihambat oleh beberapa faktor penghambat perubahan
sosial. Faktor tersebut meliputi kurangnya hubungan dengan masyarakat yang
lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat, sikap masyarakat yang
tradisional, adat atau kebiasaan, kepentingan-kepentingan yang tertanam kuat
sekali, rasa takut akan terjadinya disintegrasi (meninggalkan tradisi), sikap
yang tertutup, hambatan yang bersifat ideologis, dan hakikat hidup.
C. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
Bentuk perubahan
sosial dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk yaitu perubahan evolusi dan
perubahan revolusi, perubahan direncanakan dan tidak direncanakan, dan
perubahan berpengaruh besar dan berpengaruh kecil.
1.
Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi
Perubahan evolusi dan perubahan revolusi adalah bentuk
perubahan sosial berdasarkan lama perubahan sosial tersebut. Perubahan evolusi
adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dan
terjadi karena dorongan dan usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri
terhadap kebutuhan hidupnya. Sedangkan perubahan revolusi adalah
perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat dan terjadi
karena ada ketidakpuasan masyarakat terhadap suatu keadaan. Keduanya sama-sama
tidak ada unsur kehendak atau perencanaan sebelumnya.
2. Perubahan Direncanakan dan
Tidak Direncanakan
Perubahan direncanakan dan tidak direncanakan adalah
bentuk perubahan sosial berdasarkan ada tidaknya perencanaan dalam perubahan
sosial tersebut. Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang
diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang
hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Sedangkan perubahan yang tidak
direncanakan adalah perubahan yang tidak dikehendaki dan terjadi di luar
jangkauan masyarakat. Perubahan yang tidak direncanakan biasanya diakibatkan
karena bencana alam atau wabah penyakit.
3. Perubahan Berpengaruh Besar
dan Berpengaruh Kecil
Perubahan berpengaruh besar dan
berpengaruh kecil adalah bentuk perubahan sosial berdasarkan besar pengaruhnya
terhadap masyarakat. Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika perubahan
tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur kemasyarakatan,
hubungan kerja, sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat. Sedangkan
perubahan berpengaruh kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada
struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi
masyarakat. Perubahan berpengaruh kecil biasanya berupa mode atau tren yang
tidak semua masyarakat mengikutinya.
D. Proses Perubahan Sosial
Perubahan
sosial terdiri dari beberapa proses. Proses itu dapat ditandai dengan perubahan
pada struktur lembaga-lembaga sosial. Proses-proses sosial tersebut menyangkut
penyesuaian masyarakat terhadap perubahan, saluran-saluran perubahan,
disorganisasi, dan reorganisasi.
1.
Penyesuaian Masyarakat Terhadap Perubahan
Keserasian
atau kesesuaian masyarakat adalah yang paling diidam-idamkan. Keserasian
tersebut ditandai dengan keadaan dimana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang
pokok benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Sekali saja terjadi gangguan,
masyarakat akan menolaknya atau mengubah susunan lembaga-lembaga
kemasyarakatannya. Hal ini menyebabkan masuknya berbagai unsur-unsur baik yang
baru maupun yang lama. Terkadang unsur-unsur tersebut bertentangan dengan nilai
dan norma pada masyarakat. Hal ini berarti gangguan-gangguan terus menerus
terjadi terhadap keserasian masyarakat.
2.
Saluran-Saluran Perubahan Sosial
Saluran-saluran perubahan sosial adalah
saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan. Saluran tersebut
berfungsi agar sesuatu perubahan dikenal, diterima, diakui, serta dipergunakan
oleh khalayak ramai, atau mengalami proses institutionalization (pelembagaan).
Saluran-saluran tersebut adalah lembaga kemasyarakatan dalam berbagai bidang
seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dll. Pada suatu waktu, salah satu
lembaga kemasyarakatan akan menjadi saluran utama perubahan sosial dan membawa
akibat pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya karena lembaga-lembaga
tersebut merupakan suatu sistem yang saling terkait satu sama lain.
3.
Disintegrasi dan Reintegrasi
Perubahan
sosial dapat mengakibatkan terjadinya proses disintegrasi atau reintegrasi.
Disintegrasi atau disorganisasi adalah suatu proses pudarnya norma-norma dan
nilai-nilai dalam masyarakat yang disebabkan perubahan-perubahan yang terjadi
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Reintegrasi atau reorganisasi adalah
proses pembentukan kembali norma-norma dan nilai-nilai baru untuk menyesuaikan
diri dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mengalami perubahan.
Reintegrasi umumnya disebabkan oleh rasa kesatuan dan persatuan.
E. Perubahan Sosial di Bidang Pendidikan
Perubahan
sosial dapat terjadi dibidang pendidikan. Hal ini seiring dengan berkembangnya
metode pengajaran dan kurikulum yang berlaku. Selain itu, perkembangan
teknologi juga membuat perubahan pada pendidikan. Perubahan sosial dalam bidang
pendidikan antara lain:
1.
Cara Mengajar
Cara
mengajar berubah seiring perkembangan jaman. Berbagai penelitian telah
dilakukan terutama dalam bidang psikologi pada peserta didik. Tentu saja mereka
menginginkan cara mengajar yang lebih baik sehingga mudah dipahami oleh peserta
didik. Selain itu, perkembangan teknologi juga semakin memajukan cara mengajar.
Seperti penggunaan proyektor dalam mengajar.
2.
Kekerasan
Dahulu,
guru memperlakukan muridnya dengan sangat kasar hingga ada yang sampai terluka.
Namun, saat ini telah ada undang-undang perlindungan anak. Sehingga guru jaman
sekarang tidak bisa melakukan muridnya dengan kasar.
3.
Metode Belajar
Di
beberapa sekolah, metode belajar berubah menjadi lebih modern. Seperti
penggunaan laptop dan tablet PC. Di sekolah pun sering disediakan WiFi untuk
mempermudah siswa untuk mengakses internet dan mencari sumber belajar.
4.
Membuat Tugas
Dahulu,
siswa mengerjakan tugas dengan cara pergi ke perpustakaan lalu meneliti seluruh
isi buku kemudian menuliskan tugasnya dalam secarik kertas. Sekarang sangat
berbeda: cari di internet, salin, cetak, selesai.
5.
Kurikulum
Kurikulum
adalah perubahan terbesar di bidang pendidikan. Kurikulum mencakup cara
belajar, cara mengajar, dan apa yang diajarkan. Ketika kurikulum berubah, guru
dan siswa harus menyesuaikan segalanya dan seringkali itu sulit.
F.
Dampak
Perubahan Sosial
1.
Dampak
Positif
Adapun
dampak positif perubahan sosial sebagai berikut :
a.
Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Perkembangan iptek dapat mengubah nilai-nilai lama menjadi
nilai-nilai baru yang mendorong berbagai inovasi yang dapat memudahkan
kehidupan masyarakat menuju perubahan sosial kearah modernisasi.
b.
Tercipta lapangan kerja baru
Dapat mendorong industrialisasi dan perkembangan perusahaan
multinasional. Dengan pengembangan perusahaan secara global dan pembukaan
industri kecil, tersedia banyak lapangan pekerjaan sehingga mampu menyerap
tenaga kerja secara maksimal.
c.
Tercipta tenaga kerja
profesional
Untuk mendukung persaingan industri diperlukan tenaga kerja
yang memiliki kecakapan, keterampilan, keahlian, dan profesionalisme yang
tinggi.
d.
Nilai dan norma baru
terbentuk
Nilai merupakan sesuatu yang baik, penting, dihargai dan
norma merupakan aturan yang mengikat nilai.
e.
Efektivitas dan efisiensi
kerja meningkat
Efektivitas dan efisiensi kerja selalu berkaitan dengan
penggunaan alat produksi yang dapat menghasilkan produk lebih cepat, lebih
banyak, dan tepat sasaran.
2. Dampak Negatif
Dampak negatif perubahan sosial menunjukkan kerugian yang di alami
oleh masyarakat, kerugian tersebut berupa materiel maupun non materil.
Adapun dampak negatif perubahan sosial sebagai berikut :
a.
Terjadi disintegrasi sosial
Disintegrasi
terjadi karena adanya revolusi, kesenjangan sosial, perbedaan kepentingan yang
dapat mendorong perpecahan dalam masyarakat.
b.
Terjadi pergolakan daerah
Pergolakan daerah dapat muncul akibat :
1)
kesenjangan ekonomi
2)
tidak memperhatikan tatanan
hidup
3)
mengabaikan nilai dan norma
4)
perbedaan agama, ras, suku
bangsa dan politik.
c.
Kenakalan remaja
Muncul
akibat pengaruh perubahan sosial, nilai-nilai kebebasan budaya barat diadopsi
tanpa menyesuaikan kondisi kebudayaan sendiri.
d.
Terjadi kerusakan lingkungan
e.
Eksistensi adat istiadat
berkurang
Nilai adat
istiadat semakin ditinggalkan oleh masyarakat karena dianggap tidak sesuai
dengan perkembangan zaman, dan digantikan dengan nilai kebudayaan moderen.
f.
Lembaga sosial tidak
berfungsi secara optimal menyalahgunakan kedudukan dan wewenang.
g.
Muncul paham duniawi
1) Konsumerisme, yakni paham/idiologi yang menjadikan seseorang
mengonsumsi/memakai barang-barang secara berlebihan.
2) Sekularisasi, paham yang memisahkan urusan dunia dengan
urusan agama.
3) Hedonisme, paham yang menganggap hidup bertujuan untuk
mencari kebahagiaan sebanyak munkin dan menghindari perasangka-perasangka yang
menyakitkan.
G.
Pengertian,
Hakikat dan Komponen Pembangunan
Pembangunan adalah semua
proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana.
Sedangkan perkembangan adalah
proses perubahan yang terjadi secara alami sebagai dampak dari adanya pembangunan
(Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005). Portes
(1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan
budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Hakikat pembangunan di Indonesia
adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh
masyarakat Indonesia. Seiring dengan itu, pembangunan pun menghendaki
keikutsertaan dari seluruh warga tanpa terkecuali.
Adapun secara spesifik menurut
Profesor Goulet dan beberapa tokoh lain mengatakan bahwa paling tidak ada tiga
komponen dasar atau nilai inti yang harus dijadikan basis konseptual dan
pedoman praktis untuk memahami arti pembangunan yang paling hakiki, yaitu:
kecukupan (sustenance), harga diri (self-esteem), serta kebebasan (freedom), yang merupakan tujuan pokok
yang harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Adapun
pengertian dari ketiga komponen dasar ini, yaitu:
1) Kecukupan adalah kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar disini yaitu segala sesuatu yang
jika tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang, meliputi pangan,
sandang, papan, kesehatan, dan keamanan. Fungsi dasar dari semua kegiatan
ekonomi hakikatnya adalah untuk memenuhi minimal kebutuhan-kebutuhan dasar
tersebut. Maka bisa dikatakan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi merupakat
prasyarat bagi membaiknya kualitas kehidupan;
2) Harga Diri yaitu menjadi manusia seutuhnya. Komponen
universal yang kedua dari kehidupan yang serba lebih bak adalah adanya dorongan
dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri
pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu dan seterusnya.
3) Kebebasan dari sikap menghamba yaitu berupa kemampuan
untuk memilih. Artinya makna pembangunan harus memiliki konsep kemerdekaan
manusia. Kemerdekaan atau kebebasan di sini hendaknya diartikan secara luas
sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengajaran
aspek-aspek materiil dalam kehidupan ini. Jika kita memiliki kebebasan, itu
berarti untuk selamanya kita mampu untk berfikir jernih dan menilai segala
sesuatu atas dasar keyakinan, fikiran sehat, dan hati nurani kita sendiri.
Kebebasan juga meliputi kemampuan individual atau masyarakat untuk memilih satu
atau sebagian dari sekian banyak pilihan yang tersedia.
H. Bentuk Pembangunan di Indonesia
Pembangunan nasional
Indonesia adalah paradigma pembangunan yang terbangun atas pengalaman Pancasila
yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat
Indonesia seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedomannya.
Dari amanat tersebut dapat disadari bahwa pembangunan ekonomi bukan semata-mata
proses ekonomi, tetapi suatu penjelmaan pula dari proses perubahan politik,
sosial, dan budaya yang meliputi bangsa, di dalam kebulatannya.
Pembangunan nasional
merupakan cerminan kehendak terus menerus meningkat kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata, serta mnegambangkan
kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis
berdasarkan Pancasila. Indonesia sebagai negara berkembang umumnya menganut
program pembangunan yang termasuk ke dalam kelompok negara yang melaksanakan
strategi industrialisasi dan substitusi impor yang berorientasi pada pemenuhan
pasar dalam negeri. Hal ini didasari oleh besarnya pasaran dalam negeri , jika
dibandingkan dengan negara-negara yang menganut model industrialisasi yang
berorientasi pada ekspor seperti Singapura, Korea Selatan, dan lain-lain.
1.
Pembangunan
Ekonomi
a.
Pengertian Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi secara umum di definisikan sebagai
serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan
ekonominya, sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin
banyak dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi
semakin meningkat. Selain itu pembangunan ekonomi juga diartikan sebagai suatu
proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan
adanya pertambahan penduduk dan disertai perubahan fundamental dalam struktur
ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara.
b.
Program Pemerintah
Mengenai Pembangunan Ekonomi di Indonesia
1)
Ekonomi Kreatif
setelah
ekonomi informasi yang mengutamakan informasi sebagai pengembangan ekonomi,
muncul istilah ekonomi kretaif sebagai sebuah konsep di era ekonomi baru yang
mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide, pengetahuan
yang inovatif, teknologi yang kreatif dan budaya dari sumber daya manusia
sebagai faktor produksi yang utama untuk menciptakan kesejahteraan serta
lapangan pekerjaan dengan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu
tersebut. Konsep ini biasanya akan didukung dengan industri kreatif dan banyak
menarik perhatian terutama digunakan pada kampanye capres dan cawapres seperti
yang dicanangkan oleh presiden Jokowi pada masa kampanyenya.
Menurut Howkins, ekonomi kreatif adalah kegiatan
ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena
bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk
kemajuan. Oleh karena itu, ekonomi kreatif ini merupakan suatu upaya
pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui kreativis dengan iklim
perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang
terbarukan. Jenis-jenis dari ekonomi kreatif ini diantaranya seperti:
periklanan (advertising), arsitektur,
pasar barang seni, kerajinan (craft),
desain, Fashion, video, film,
fortografi, permainan interaktif (game),
musik, seni perutnjukan (showbiz),
penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan perangkat lunak (software), televisi dan radio
(broadcasting), riset dan pengembangan, kuliner.
Dilihat dari jenis-jenis tersebut, ekonomi kreatif ini
lebih bayak muncul dari industri kecil menengah yang dalam produksinya tidak
membutuhkan skala dalam jumlah besar tetapi industri ini berkontribusi positif
terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari
catatan Departemen Perdagangan pada tahun 2002-2006 yang mebuktikan bahwa
industri kreatif ini mampu mencapai 6,3% atau 152,5 triliun jika dirupiahkan.
Industri ini juga menyerap tenaga kerja hingga 5,4 juta dengan tingkat
partisipasi 5,8%. Dari segi ekspornya pun industri kreatif ini sangat besar
yaitu sekitar 10,6%. Oleh karena itu, industri kreatif ini sangat potensial dan
penting undtuk dikembangkan di Indonesia.
2)
Pasar Bebas ASEAN (MEA)
pada tahun 2015 mendatang, kesepakatan masyarakat
ekonomi ASEAN atau pasar bebas ASEAN mulai berlaku. ASEAN merupakan sebuah
organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara kawasan Asia tenggara
yang didirikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan
pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya serta memajukan perdamaian di
tingkat regionalnya. Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, ASEAN mendirikan
ASEAN Economic Community (AEC)
sebagai bentuk integrasi ekonomi. Pada tahun 2015, AEC ini kan menjadi pasar
tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus investasi, dan tenaga
terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas sehingga akan membuka
peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan ASEAN.
3)
Peningkatan
Pendapatan Perkapita Melalui Bidang Kelautan
pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan
rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita sering digunakan
sebagai tolak ukur kemakmuran dan pembangunan suatu negara, semakin besar
pendapatan perkapita suatu negara, semakin makmur negara tersebut. Perikanan
merupakan sektor yang menjamin pendapatan perkapita saat ini mengingat lahan di
Indonesia yang semakin menyempit oleh industri yang terus berkembang dan
membutuhkan lahan yang cukup banyak. Perikanan adalah kegiatan yang berhubungan
dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari
praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan
dalam suatu sistem bisnis perikanan. Perikanan terbagi menjadi dua, yaitu
perikanan darat (air tawar) dan
perikanan laut (air asin). Sektor ini juga menjadi salah satu penyumbang devisa
bagi Indonesia yang tentunya mempengaruhi pendapatan perkapita Indonesia.
2. Pembangunan Sosial
a.
Pengertian Pembangunan Sosial
Pembangunan
biasanya diidentikkan dengan ekonomi. Keberhasilan pembangunan selalu diukur
dengan pencapaian dan pertumbuhan ekonomi seperti pendapatan perkapita yang
hanya didasarkan pada pendapatan rata-rata yang diterima oleh anggota masyarakat. Contoh
lain keberhasilan pembangunan dilihat dari pertumbuhan ekonomi dalam jangka
waktu tertentu. Pembangunan yang hanya mendasarkan pada pertumbuhan ekonomi
menyebabkan semakin terjadinya kesenjangan dalam masyarakat. Di banyak negara,
khususnya negara berkembang, pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama.
Akibatnya muncul berbagai ketimpangan khususnya kemiskinan yang merupakan
dampak dari pembangunan ekonomi. Untuk mengatasi permasalahan ketimpangan yang
disebabkan karena lebih memprioritas pembangunan ekonomi perlu adanya
“pembangunan tandingan” yang berupa pembangunan sosial.
Edi
Suharto mengartikan pembangunan sosial sebagai suatu pendekatan pembangunan
yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara
paripurna, yakni memenuhi kebutuhan manusia yang terentang mulai dari kebutuhan
fisik sampai sosial.Berdasarkan definisi dari Edi Suharto tersebut terlihat
bahwa pembangunan sosial lebih kepada meningkatkan keadilan terhadap semua
anggota masyarakat.
Jadi
pembangunan sosial adalah proses pembangunan yang direncanakan dan diselaraskan
dengan pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat berdasarkan keadilan.
b.
Program Pemerintah
Mengenai Pembangunan Sosial
1)
Program BPJS
Program
jaminan sosial merupakan program perlindungan yang bersifat dasar bagi tenaga
kerja yang bertujuan untuk menjamin adanya keamanan dan kepastian terhadap
resiko-resiko sosial ekonomi, dan merupakan sarana penjamin arus penerimaan
penghasilan bagi tenaga kerja dan keluarganya akibat dari terjadinya resiko
sosial dengan pembiayaan yang terjangkau oleh pengusaha dan tenaga kerja.
Resiko sosial ekonomi yang ditanggulangi oleh program tersebut terbatas saat
terjadi peristiwa kecelakaan, sakit, hamil, bersalin, cacat, hari tua dan
meninggal dunia, yang mengakibatkan berkurangnya atau terputusnya penghasilan
tenaga kerja dan/atau membutuhkan perawatan medis Penyelenggaraan Program
Jaminan Sosial ini yang menggunakan mekanisme Asuransi Sosial. Macam-macam dari
BPJS ini diantaranya ada BPJS ketenagakerjaan (LHK) seprti Jaminan Kecelakaan
Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK) dan Jaminan Hari Tua (JHT); serta BPJS
kesehatan.
2)
Pemberdayaan Nelayan
Salah satu percepatan kesejahteraan bagi nelayan
adalah bagi nelayan adalah dengan dibuatnya peraturan pemerintah (PP) tentang
pemberdayaan masyarakat nelayan dan pembudidaya skala kecil. PP tersebut
sebagai peraturan pelaksana Undang-undang No. 45/2009 tentang perikanan yang
sampai sekarang belum ada peraturan pelaksanaannya. Adanya peraturan pemerintah
ini didasari oleh masalah klasik yang dialami oleh nelayan kecil yaitu akses
terhadap pemodalan dan informasi perikanan, jaminan harga ikan yang baik di
tempat penjualan ikan, bagaimana nelayan bisa dilibatkan dalam pengelolaan
kealutan, kepastian hak akses dan pemanfaatan sumber daya perikanan bagi
nelayan kecil, adanya penyerobotan wilayah tangkap dan pencemaran pesisir dan
laut, proses perizinan yang bertele-tele sehingga memakan waktu dan biaya yang
banyak, akses permodalan dan BBM bersubsidi yang hampir mustahil diperoleh
dengan ketentuan harga perpres tahun 2012 yaitu Rp. 4500, adanya
ktidakberpihakan pemerintah pada nelayan yang mengalami kecelakaan saat melaut
dan perbaikan kapal juga belum ada, adanaya perempuan nelayan juga belum diakui
peran dan keberadaannya di dalam kebijakan kelautan dan perikanan. Oleh karena
itu dengan adanya Koordinator Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI)
ini berharap besar terhadap Presiden Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan
Perikanan Susi Pudjiastuti untuk dapat memberikan perhtaian khsusus bagi
nelayan dalam bekerja menantang maut sehingga perlu adanya perlindungan jaminan
sosial dan asuransi bagi nelayan yang mengalami kecelakaan maupun nelayan yang
belum mendapatkan haknya sehingga mereka dapat terjamin kesejahteraannya.
I. Dampak Pembangunan di Indonesia
1. Dampak Pembangunan Ekonomi
a.
Dampak Positif Pembangunan Ekonomi
1)
Melalui pembangunan
ekonomi, pelaksanaan kegiatan perekonomian akan berjalan lebih lancar dan mampu
mempercepat proses pertumbuhan ekonomi.
2)
Adanya pembangunan
ekonomi dimungkinkan terciptanya lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh
masyarakat, dengan demikian akan mengurangi pengangguran.
3)
Terciptanya lapangan
pekerjaan akibat adanya pembangunan ekonomi secara langsung bisa memperbaiki
tingkat pendapatan nasional.
4)
Melalui pembangunan
ekonomi dimungkinkan adanya perubahan struktur perekonomian dari struktur
ekonomi agraris menjadi struktur ekonomi industri, sehingga kegiatan ekonomi
yang dilaksanakan oleh negara akan semakin beragam dan dinamis.
5)
Pembangunan ekonomi
menuntut peningkatan kualitas SDM sehingga dalam hal ini, dimungkinkan ilmu
pengetahuan dan teknologi akan berkembang dengan pesat. Dengan demikian, akan
makin meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
b. Dampak Negatif Pembangunan
Ekonomi
1) Adanya pembangunan ekonomi yang tidak terencana dengan
baik mengakibatkan adanya kerusakan lingkungan hidup.
2) Industrialisasi mengakibatkan berkurangnya lahan
pertanian.
3) Hilangnya habitat alam baik hayati atau hewani.
3.
Pembangunan
Politik
a.
Pengertian
Pembangunan Politik
Pembangunan politik adalah
proses perubahan dari tradisional kearah masyarakat modern serta dari statis ke
masyarakat dinamis yang berhubungan dengan orientasi pembangunan.
b.
Manfaat
Pembangunan Politik
1)
Pembangunan
Politik sebagai Prasyarat
Politik bagi Pembangunan Ekonomi.
Pembangunan politik dipandang
sebagai keadaan masyarakat politik yang dapat membantu jalannya pertumbuhan
ekonomi. Ketika para ahli diminta mengidentifikasi apa persoalan yang dihadapi
oleh pertumbuhan ekonomi, jawaban mereka adalah bahwa kondisi sosial dan
politik yang harus bisa lebih berperan. Kalangan ini meyakini pembangunan
politik sebagai kondisi kepolitikan (state polity) yang harus memfasilitasi
pertumbuhan ekonomi. Cara pandang seperti ini memiliki persoalan karena lebih
mudah memprediksi kemungkinan sistem politik melindungi pembangunan ekonomi
yang sudah dicapai (misalnya dengan mempertahankan stabilitas) daripada
memfasilitasi (merintis) pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi
memiliki kaitan yang erat dengan pembangunan politik yang dijalankan oleh suatu
negara. Kebijakan pembangunan membawa dampak pada pertumbuhan ekonomi suatu
negara, namun demikian pertumbuhan ekonomi semata tidak dapat dijadikan ukuran
keberhasilan sebuah pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi seiring
modernisasi ternyata membawa konsekuensi berupa kesenjangan ekonomi yang
semakin lebar antara orang kaya dan orang miskin.
2)
Pembangunan Politik sebagai Ciri Khas
Kehidupan Politik Masyarakat Industri
Menurut
pandangan ini, masyarakat industri, baik yang demokratis maupun bukan,
menciptakan standard-standard (ukuran) tertentu mengenai tingkah laku dan
prestasi politik yang dapat menghasilkan keadaan pembangunan politik dan yang
merupakan contoh dari tujuan-tujuan pembangunan bagi setiap sistem politik
lainnya.
3)
Pembangunan Politik sebagai Modernisasi
Politik
Pandangan bahwa pembangunan politik merupakan
kehidupan politik yang khas dan ideal dari masyarakat industri berhubungan erat
dengan pandangan politik identik dengan modernisasi politik. Pandangan ini
mirip dengan konsep pembangunan politik sebagai prasyarat politik bagi
pembangunan ekonomi, yakni masih berkaitan dengan prestasi ekonomi. Prestasi
ekonomi terutama dalam hal industrialisasi-isme dianggap sebagai kondisi puncak
yang menyelesaikan semua masalah, dan harapan yang sama dibebankan pada
pembangunan politik. Konsep seperti ini sudah dikritik oleh penganut relativisme
kultural yang mempertanyakan Barat sebagai ukuran standar dan universal untuk
semua sistem politik di dunia ini. Pertanyaan yang pertama kali perlu dijawab
adalah apakah pembangunan politik ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sebuah
negara dalam kepolitikannya seperti parpol, administrasi sipil yang rasional,
dan badan legislatif? Kalau jawabannya adalah iya, maka muncul persoalan
etnosentrisme Barat di sini, karena semua unsur itu memang menjadi karakter
Barat. Kalau jawabannya hanya sebatas tercapainya tujuan-tujuan dari elemen
politik tersebut, maka akan banyak persoalan lokal yang muncul.
4)
Pembangunan Politik sebagai Operasi
Negara-Bangsa
Sudut pandang ini nasionalisme. Dan ini merupakan
prasyarat penting, tetapi masih kurang memadai untuk dapat menjamin pelaksanaan
pembangunan politik. Pembangunan politik meliputi serangkaian usaha
penerjemahan perasaan-perasaan nasionalisme menjadi semangat kewarganegaraan,
dan usaha pembentukan lembaga-lembaga negara yang dapat menampung
aspirasi-aspirasi (nasionalisme) masyarakat ke dalam kebijakan dan program.
5)
Pembangunan Politik sebagai Pembangunan
Administrasi dan Hukum
Dalam
membina masyarakat politik yang harus didahulukan adalah tatanan hukum dan
tatanan adminstrasi.
6)
Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan
Partisipasi Masyarakat
Pembangunan politik meliputi perluasan partisipasi
masyarakat. Proses partsipasi ini berarti penyebarluasan proses pembuatan
kebijakan. . Karena pembangunan politik adalah menyangkut peran warganegara
dalam bentuk kesetiaan barunya terhadap negara. Pemimpin dan pengikut merasa
pembangunan politik makin berkualitas dilihat dari tingkat demonstrasi di
seluruh negeri. Pembangunan politik memang menyangkut partisipasi warganegara.
Namun yang harus juga dipikirkan adalah bahaya adanya emosionalisme warga
negara yang diolah oleh demagog. Karenanya penting menyeimbangkan gelora,
sentimen warga negara dengan tertib politik. Inilah proses demokrasi yang
sesungguhnya
7)
Partisipasi Politik sebagai Pembinaan
Demokrasi
Pandangan ini menyatakan bahwa pembangunan politik
seharusnya sama dengan pembentukan lembaga-lembaga dan praktik-praktik
demokrasi.
8)
Pembangunan Politik sebagai Stabilitas dan
Perubahan Teratur
Stabilitas
dapat dihubungkan dengan konsep pembangunan politik dalam arti bahwa setiap
bentuk kemajuan ekonomi dan sosial umumnya tergantung pada lingkungan yang
lebih banyak memiliki kepastian yang memungkinkan adanya perencanaan berdasar
pada prediksi yang cukup aman.
9)
Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan
Kekuasaan
Pandangan ini membawa kita pada konsep bahwa
sistem-sistem politik dapat dinilai dari sudut tingkat atau kadar kekuasaan
yang dapat dimobilisasi oleh sistem itu. Bila pembangunan politik diartikan
sebagai mobilisasi dan peningkatan kekuasaan dalam masyarakat, dapatlah kita
membedakan antara tujuan pembangunan dengan cir-ciri yang biasanya dilekatkan
pada pembangunan. Pengakuan bahwa sistem politik harus bermanfaat bagi
masyarakat membawa kita pada pemahaman soal kapabilitas sistem politik. Kalau
ada argumen bahwa demokrasi akan mengurangi efisiensi, berarti tingkat
efisiensi politik bisa diukur. Artinya lagi, sistem politik dapat dievaluasi
dari bagaimana kekuasaan absolute bekerja memobilisasi. Sistem yang tidak
stabil akan beroperasi dengan margin kekuasaan yang rendah, dan para pengambil
keputusan adalah lembaga-Iembaga impotent untuk mampu mencapai tujuan-tujuan
politik.
10) Pembangunan
Politik sebagai Satu Segi Proses Perubahan Sosial yang Multidimensi
Menurut pandangan ini, semua bentuk pembangunan saling
berkaitan. Pembangunan banyak persamaannya dengan modernisasi, dan terjadi
dalam konteks sejarah dimana pengaruh dari luar masyarakat memengaruhi
proses-proses perubahan sosial, persis sebagaimana perubahan-perubahan dalam
bidang ekonomi, sistem politik dan tertib sosial saling memengaruhi satu sama
lain.
c. Model-Model Pembangunan Politik
Huntington
dalam hal ini mengemukakan empat model pembangunan, yaitu:
a.
Model pembangunan liberal borjuis
Dalam
model ini, terdapat asumsi bahwa sebab-sebab ketimpangan sosial ekonomi, kekerasan
politik, dan ketidakadilan politik yang demokratis terletak pada keterbukaan
kalangan ekonomi yang bersangkutan. Untuk itu diperlukan upaya-upaya
modernisasi dan pembangunan di bidang sosial ekonomi secara cepat. Dalam model
ini partisipasi diupayakan secara cepat.
b.
Model pembangunan otokrasi
Model
pembangunan otokrasi yaitu model pembangunan yang berusaha memusatkan kekuasaan
di tingkatan pertumbuhan ekonomi yang menggairahkan pemerataan ekonomi
masyarakat untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat bawah. Pada masa Orde
Baru di Indonesia memakai model ini. Struktur masyarakat menengah dikucilkan
dari kekuasan politik untuk menciptakan stabilitas politik.
c.
Model teknokrasi
Model
teknokrasi didasarkan pada asumsi bahwa partisipasi harus ditekan agar rendah
sehingga memungkinkan upaya untuk memajukan pembangunan. Model ini ditandai
partisipasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan meningkatkan
pendapatan masyarakat.
d.
Model populasi
Model
populasi mengakibatkan konfl ik sosial dan terbentuknya kutub-kutub polarisasi
dalam masyarakat. Model populasi ditandai partisipasi politik yang tinggi,
perluasan kebijaksanaan dan kesejahteraan sosial, peningkatan pengusiran
sosial, dan pertumbuhan ekonomi yang lamban.
Pilar
Demokrasi
Salah
satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica. Prinsip ini membagi ketiga
kekuasaan politik negara untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara. Tiga
jenis lembaga tersebut adalah eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Ketiga
lembaga saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu
sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini
diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling
mengontrol berdasarkan prinsip keseimbangan.
Peran
ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah:
Lembaga-lembaga pemerintah
memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif.
Lembaga-lembaga pengadilan
berwenang menyelenggarakan kekuasaan yudikatif. Lembaga-lembaga perwakilan
rakyat memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Keputusan
legislatif dibuat oleh rakyat melalui wakil-waklinya. Para wakil rakyat ini
wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya
(konstituen) dan yang memilihnya.
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perubahan Sosia ladalah suatu proses
pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat. Menurut
Soerjono Soekanto, adanya faktor-faktor intern (dari dalam masyarakat) dan
ekstern (dari luar masyarakat) yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial
dalam masyarakat. Bentuk perubahan ini berupa perubahan evolusi dan perubahan
revolusi, perubahan direncanakan dan tidak direncanakan, dan perubahan
berpengaruh besar dan berpengaruh kecil. Perubahan sosial dibidang pendidikan
dilakukan dengan mengembangkan metode pengajaran dan kurikulum yang
berlaku.Perubahan sosial berdampak pada ilmu pengetahuan di Indonesia dan
sebagainya.
Sedangkan pembangunan adalah semua proses
perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terencana.
Hakikat pembangunan di Indonesia adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia sehingga menghendaki keikutsertaan
dari seluruh warga tanpa terkecuali. Pembangunan ekonomi adalah serangkaian
usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya. Program
pemerintah mengenai pembangunan ekonomi di Indonesia ini diantaranya seperti
ekonomi kreatif, pasar bebas ASEAN, dan peningkatan pendapatan perkapita
melalui perikanan.
B. Saran
Sebagai masyarakat Indonesia yang bijak sudah
seharusnya peka terhadap perubahan sosial yang ada, secara sadar maupun tidak
sadar, langsung maupun tidak langsung kita larut dalam perubahan yang ada. Yang
terpenting adalah bagaimana kita memposisikan diri dan menyaring perubahan
sosial yang ada.Perubahan sosial akan berdampak pada pembangunan di Indonesia
baik dari segi ekonomi maupun sosialnya. Oleh karena itu, jika pembangunan di
Indonesia ingin maju maka perbaiki terlebih dahulu perubahan sosial yang ada di
Indonesia ke arah yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono (1984), Teori Sosiologi
tentang Perubahan Sosial, Ghalia, Indonesia.
----, (1987), Sosiologi suatu Pengantar, Penerbit CV, Rajawali Jakarta.Abidin, Said Zainal, 2004. Hakekat Pembangunan. dan Perubahan Masyarakat. Jakarta; Yayasan Pancur Siwah,
Johnson, Dayle Paul (1994), Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Di Indonesia oleh Robert M.Z. Lawang, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cet. III.
----, (1987), Sosiologi suatu Pengantar, Penerbit CV, Rajawali Jakarta.Abidin, Said Zainal, 2004. Hakekat Pembangunan. dan Perubahan Masyarakat. Jakarta; Yayasan Pancur Siwah,
Johnson, Dayle Paul (1994), Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Di Indonesia oleh Robert M.Z. Lawang, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cet. III.
Rosdayana, Diar. (2010). Hakikat
Pembangunan di Indonesia. [Online]. Tersedia: https://diarydiar.wordpress.com/2010/01/26/hakikat-pembangunan-di-indonesia/, diakses tanggal 6 Desember 2014
JAMOSLOT88: CASINO - JT MOHEGAN SUN NJ - WebJAR
BalasHapusCASINO in JT MOHEGAN SUN NJ 울산광역 출장마사지 08401 충주 출장마사지 has 6 restaurants and a poker room. 과천 출장마사지 JTG is located in 아산 출장안마 NJ 1 Borgata Way and in JTG 1 Casino Drive. 삼척 출장샵